RSS

Materi Kuliah Pengantar Ek. Mikro bagian 2

Teori Prilaku Konsumen

Konsumsi adalah titik pangkal dan tujuan akhir seluruh kegiatan ekonomi masyarakat. Kalau produksi diartikan “inenciptakan utility” dalam bentuk harang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, maka konsumsi berarti memakai/menggunakan utility itu untuk memenuhi kebutuhan.
Mungkin saja terjadi orang dapat memenuhi (sebagian) kebutuhannya dengan jalan Iangsung dan rnudah. Bila kita tinggal mengambil ubi atau sayuran dan kebun sendiri, proses produksi dan konsurnsinya sederhana. Tetapi dalam masyarakat modern. dengan pembagian kerja dan penggunaan Hang. proses tersebut menjadi jauh lebih berbelit-belit. Orang harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, kemudian dan penghasilannya itu baru dapat membeli barang dan jasa yang dihutuhkan.
Meskipun jelas betapa penting konsumsi itu, namun dalam teori ekonomi masalah konsumsi lama sekali diabaikan. Asal ada barang yang dihasilkan, tentu akan ada orang yang mau membelinya, kira-kira demikianlah cara berpikir orang. Maka perhatian para ahli ekonorni lebih diarahkan pada segi produksi dan segala persoalannya. Tetapi pada jaman modern semakin jelas bahwa tidak selalu ada perrnintaan akan barang yang dihasilkan. Produksi massa juga memerlukan konsumsi massa. Oleh karena itu para produsen mulai mencari jalai bagairnana dapat mempengaruhi konsumen untuk meinheli harangnya. Maka timbullah usaha marketing, sales promotion dan perikianan

Persoalan ekonomi konsumen

Pokok persoalan ekonomi yang dihadapi oleb setiap orang dan setiap keluarga dapat dirumuskan: orang ingin hidup layak sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat. Untuk itu dibutuhkan bermacam-macam barang dan jasa: makanan, pakaian, rumah, obat, sepatu, radio, pengangkutan mi semuatidak ‘gratis jatuh dan langit, melainkan harus dibeli, karena harus diproduksi dahulu. Untuk dapat membeli semuanya itu diperlukan uang, sebab kita harus membayar harganya.
Jadi seorang konsumen atau suatu keluarga di satu pihak berhadapan dcngan KEBUTUHAN KEBUTUHAN HIDUP yang harus dipenuhi, dan yang menentukan apa dan berapa yang ingin dibeli. Di lain pihak dihadapkan dengan HARGA YANG HARUS DIBAYAR serta TERBATASNYA PENGHASILAN yang membatasi apa dan berapa yang dapat dibeli.
Maka persoalannya ialah: bagaimana dengan penghasilan yang tertentu dan terbatas orang dapat memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan sebaik mungkin.
Menghadapj persolan ini, seorang konsumen hams bertindak bijaksana dalam mempergunakan dan membelanjakan uangnya. Bertindak ekonomis diartikan “mempertimbangkan hasil dan pengorbanan “.
HASIL yaitu terpenuhnya kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan, yaitu karena kegunaan harang/jasa yang dikonsumsikan
Terpenuhinya kebutuhan itu menimbulkaji suatu rasa kepuasan, Maka hasil yang kita peroleh dan konsumsi barang/jasa biasanya disebut kepuasan (satisfaction) Kemampuan barang/jasa untuk memenuhj kebutuhan manusii disebut (utility).
PENGORBANAN yaitu harga yang harus dibayar atau ‘usaha’ (kerja, waktu, dll.) yang perlu dicurahkan untuk memperoleh harang/jasa yang dibutuhkan.
Demikianlah pola kebutuhan, bersama dengan besarnya penghasjlan dan tingkat harga menentukan bagaimana para konsumen membelanjakan uangnya. Jika ada perubahan dalain pola kebutuhan keluarga (apa dan berapa yang dibutuhkan, misalnya karena ada tambahan anggota keluarga) atau perubahan dalam tingkat harga barang, atau dalam besarnya penghasilan, maka akan ada pula perubahan dalam pengeluaran para konsumen, agar kebutuhan konsumen terpenuhj sebaik mungkin atau secara Optimal
Persoalan ekonomi rumahtangga Kita mau menyelidiki apa pertimbangan-pertimbangan konsumen dalam membelanjakan uang penghasilannya, dan berapa yang akan dibelinya pada berbagai tingkat harga. Hal mi penting sekali, tidak hanya demi kesejahteraan keluarga kita sendiri saja, tetapi juga untuk masyarakat sebagai keseluruhan. Sebab pembelanjaan para konsumen ikut menentukan apa dan berapa yang dihasilkan oleh dunia produksi. Dan mi selanjutnya berpengaruh terhadap kesempatan kerja dan tingkat pendapatan nasional. Sebab produksi dan konsumsi saling berhubungan.

Teori perilaku konsumen

Pada dasarnya ada dua model atau pendekatan dalam teori yang mau menjelaskan peri-Jaku konsumen, yaitu yang dikenal dengan nama Marginal Utility dan mdiferensi. Dua-duanya pada dasarnya mencoba menjelaskan hukum permintaan, dengan cara menelusuri apa yang ada di balik kurve permintaan itu (yang tidak dan belum dijelaskan dengan income-effect dan substitution effect).
Teori UTILITY berpangkal dan ‘hasil’ yang diperoleh konsumen bila ia membelanjakan uangnya untuk membeli barang dan jasa, yaitu terpenuhnya kebutuhan karena utility atau manfaat barang yang dikonsumsikan. Menurut teoni ini seorang konsumen yang bertindak secama rasional akan membagi-bagikan pengeluarannya atas bermacam-ragam barang sedemikian rupa sehingga tambahan kepuasan yang diperoleh per rupiah yang dibelanjakan itu sebesar mungkin.
Teori INDIFERENSI merupakan penyempurnaan dari teori utility tetapi mendekati pokok persoalan yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Menurut teori ini seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluarannya atas berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang terbaik ( maksimal atau optimal) yang mungkin dicapainya sesuai dengan penghasilan yang tersedia dan harga-harga yang berlaku. Situasi yang paling cocok ( equilibrium) tercapai kalau penilaian subyektif konsumen terhadap barang itu sesuai dengan harga obyektif yang belaku dalam masyarakat.

Anggapan-anggapan

Dalam menganalisis perilaku konsumen, para ahli ekonomi biasanya mengandaikan hal-hal berikut ini:
1. bahwa para konsumen sudah mengetahui sendiri apa yang dibutuhkan dan apa yang mau dibelinya;
2. bahwa konsumen dapat mengatur (membanding-bandingkan dan mengurutkan) kebutuhan-kebutuhannya menurut penting atau mendesaknya.
3. bahwa para konsumen benusaha mencapai taraf pemenuhan kebutuhan yang “sebaik mungkin” (optimal) atau setinggi-tingginya (maksimal).
4. bahwa barang yang satu, sampai batas tertentu, dapat menggantikan barang yang lain ( substitusi).
Dengan lain kala. diandaikan bahwa seorang konsumen bertindak secara rasional meskipun kita sadari dalam kenyataannya para konsumen belum tentu selalu bertindak rasional. Bertindak rasional di sini diartikan bahwa pendapatan yang terbatas akan mendorong orang untuk ber-ekonomi dan rnemilih!memutuskan untuk membeli barang yang satu (bukan barang yang lain) atau membeli lehih banyak dan barang yang satu (bukan barang lain) berdasarkan pertimbangan mana yang akan dapat memenuhi kebutuhan/keinginannya dengan paling baik.

KONSUMEN DAN MANFAAT BARANG UTILITY

Seorang konsumen yang bertindak ekonomis pasti mempertimbangkan pengorbanan, yaitu HARGA yang harus dihayar, dan hasil, yailu MANFAAT atau kepuasan yang diperoleh dari pengeluaran uang itu. Dalam hal ini akan ditinjau segi yang kedua, yaitu kepuasan yang ditimbulkan oleh manfaat (utility) barang/jasa yang dikonsumsikan. Sebab ternyata ada hubungan tertentu antara jumlah barang yang dikonsumsikan dan manfaat kepuasan yang diperoleh daripadanya. Hal ini berpengaruh terhadap perilaku konsumen, khususnya berapa yang akan dibelinya dari harang/jasa tertentu.
Untuk mempermudah pengertian, kita pelajari dLllu hagaimana peri-laku konsumen terhadap satu maccan barang saja. Dalam hal mi pertimbangan besarnya penghasilan tidak hegitu menentukan, sehingga perhatian sepenuhnya dapat dicurahkan pada persoalan perbandingan harga barang dan manfaatnya hagi konsumen. Kemudian dilengkapi dengan memperhatikan perilaku konsumen lerhadap berbagai macam barang. di mana besarnya pendapatan serta pembagian pendapatan atas berbagai macam barang itu akan mendapat sorotan.

HUKUM TAMBAHAN KEPUASAN YANG TIDAK PROPORSIONAL

Pertanyaan pertama yang harus dijawab ialah: apa yang terjadi dengan kepuasan, jika kita membeli lebih banyak dari suatu barang tertentu? Dilihat sepintas kilas, jawaban atas pertanyaan tsb. jelas: Kalau jumlah barang yang dikonsumsikan bertarnbah hanyak, kepuasan yang diperoleh dari konsumsi barang tsb. tentunya akan bertambah juga, karena kebutuhan kita semakin terpenuhi.Tetapi pengalaman mungkin menunjukkan lain!

Hubungan antara jumlah dan kegunaan suatu barang

Kalau seseorang hanya mempunyai satu baju yang baik, maka manfaat baju yang satu itu (dan penilaiannya terhadap baju itu) amat besar. Kalau baju yang satu itu sobek, ia akan sungguh merasa susah. Apakah Ia segera akan membeli baju lain? Tentu. Karena sungguh dibutuhkan. Meskipun harus membayar harga cukup mahal.
Tetapi kalau masih ada persediaan 10 baju yang baik di almari, manfaat dan satu potong baju itu tidak dirasakan begitu besar. Kalau ada satu yang sobek, mungkin ditanggapi dengan “nggak apa-apa, kan masih banyak lainnya”. Apakah ia segera akan membeli satu lagi? Untuk apa? Lebih baik uang dipakai untuk membeli yang lain-lain.
Demikian halnya dengan banyak barang lain pula: pakaian, sepatu, makanan, radio, mobil, bahkanjuga dengan uang untuk orang yang kaya uang Rp 10.000.- boleh dikaia lak herarti. tetapi untuk orang miskin.
Dari contoh-contoh ini ternyata ada suatu hubungan tertentu antara jumlah barang yang dikonsumsikan perjangka waktu tertentu dengan manfaat/utility barang itu bagi kita. Jika jumlah barang yang dikonsumsikan (perjangka waktu tertentu) bertambah banyak, kepuasan kita juga akan bertambah. tetapi belum tentu secara roporsional.
Utility atau daya-guna suatu barang, yang sebenarnya berarti kernampuan barang tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan manusia. Produksi nienciptakan kemampuan tersebut. Tetapi baru dirasakan apabila barang itu dikonsumsikan. (Jlehkarena itu pengertian utility dalarn analisis perilaku konsumen berarti. Manfaat yang dirasakan dan konsumsi suatu barang/jasa, kepuasan yang diperoleh daripadanya. dan dengan demikianjuga penghargaan konsumen terhadapnya. Jadi utility itu nierupakan sesuatu yang subyektif, tergantung orangnya atau melekat pada din konsumen, yaitu sejauh mann kebutuhannya terpenuhi dengan konsumsi barang/jasa tertentu

Kepuasan total dan kepuasan marginal

Untuk lebih dapat memahami hal itu, kita selidiki apa yang terjadi dengan kepuasan (= “utility” yang dirasakan konsumen) apabila jumlah barang tertentu yang dikonsumsikan (dalam jangka waktu tertentu) setiap kali ditambah dengan satu satuan.akan mengurangi nilai kepuasan dari barng itu. Sebagai contoh kita ambil: jumlah gelas teh yang diminum oleh seorang guru per satuan hari kerja.
Setelah bicara di muka kelas selarna sekian jam pelajaran, pak guru merasa haus. Syukur di kamar guru disediakan minuman teh. Satu gelas teh dirasakan amat besar manfaat utility-nya. Kalau disediakan lebih dan satu gelas, pak guru juga mau. Tetapi minum enam atau tujuh gelas teh tidak perlu. Gelas teh ke-5 saja sudah tidak ada gunanya bagi pak guru. karena sudah tidak memenuhi suatu kebutuhan.
Hubungan antara jumlah barang yang dikonsumsikan (dalam contoh ini: jumlah gelas teh yang diminum per han kerja) dan kepuasan yang diperoleh dan konsumsi untuk yang dengan istilah teknis kita sebut utility, supaya lebih kelihatan hagaimana ‘jalannya’ kepuasan jika konsumsi ditamhah. Untuk itu pada sumbu horisontal (sumbu X) kita ukur banyaknya barang yang dikonsumsikan (per jangka waktu tertentu), sedang pada sumbu tegak (sumbu Y) diukur tinggi rendahnya kepuasan atau utility.
Dengan minum satu gelas teh per han kerja, pak guru mendapat kepuasan tertentu. Sebenarnya kepuasan itu hal yang subyektif sekali yang sukar dikuantitatifkan: namun kita gambarkan seakan-akan dapat diukur secara tepat, misalnya 6 satuan utility.
Dengan minum satu gelas lagi ( gelas ke-2), maka kepuasan (total) bertarnbah minum dua gelas lebih puas daripada minum satu gelas saja, meskipun mungkin sukar dikatakan berapa lebih puasnya. Katakan saja gelas ke-2 menyumbangkan kepuasan/ utility sebesar 4 satuan. Dengan demikian kepuasan total menjadi 10 satuan (6+ 4), yaitu karena gelas ke-2 menambahkan 4 satuan utility.

Hukum Gossen ke-I atau LDMU

Gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi Jerman yang bernarna Hermann Heinrich Gossen (1810 — 1859), kemudian dikembangkan oleh W.S.Jevons, K. Menger, L. Wairas dan A. Mar shall. Sekarang dikenal dengan narna Hukum Gossen ke-I atau Law of Diminishing Marginal Utility (LMDU).

Hukum tersebut dapat dirumuskan sbb.
Jika jumlah suatu harang yang dikonsumsikan dalain jangka waktu tertentu ditambah, maka kepuasan total (Total Utility) yang diperoleh memang bertambah, tetapi mulai saat tertentu —Marginal Utility (tambahan kepuasan yang diperoleh jika konsumsi ditambah dengan satu satuan) semakin berkurang.Dengan kata lain tambahan kepuasan (yang diperoleh dan tambahan jumlah barang yang dikonsumsikan itu) tidak proporsional (= tidak sebanding) dengan tambahan jumlah barang yang dikonsumsikan.
Dikatakan “mulai saat tertentu” karena mungkin terjadi tambahan kepuasan yang diperoleh dan unit ke-2 lebih besar daripada yang diperoleh dan unit ke- I. Tetapi pada suatu saat hukum mi akan mulai berlaku pula.
Gejala tambahan kepuasan yang tidak proporsional ini sebenarnya merupakan gejala psikologis. Namun menipunyai akibat yang penting di bidang ekonomi, karena berpengaruh terhadap tingkah-laku konsumen dan bentuk kurve perrnintaan, dan dengan demikian pula terhadap harga barang.

MARGINAL UTILITY DAN HARGA BARANG

Jika konsumsi ditambah dengan satu satuan, Marginal Utility (tambahan kepuas an yang diperoleh dari tambahan satu satuan barang itu) akan semakin berkurang — demikianlah inti dan pembahasan di atas. Tetapi menambah konsumsi dengan satu satuan itu umumnya tidak ‘gratis’. Barang yang dikonsumsi itu harus dibeli dan dibayar. Maka dalam mempertimbangkan apakah konsumsi akan ditambah lagi dengan satu satuan (dalam arti membeli Iebih banyak dan barang yang sama), seorang konsumen yang rasional mesti mempertimbangkan:
Hasil = tambahan kepuasan yang dipenoleh = Marginal Utility
PENGORRANAN = tambahan biaya = harga yang harus dibayar

Paradox of value
Pengertian Marginal Utility merupakan kunci untuk memecahkan pertanyaan atau teka-teki yang sangat terkenal dalam sejarah ilmu ekonomi, yang telah diajukan oleh Adam Smith tetapi tidak dapat dijawabnya: Apa sebabnya air— yang merupakan barang yang sangat berguna bahkan mutlak perlu untuk hidup — tidak berharga, sedangkan batu intan — yang manfaatnya sangat terbatas dan tidak perlu untuk hidup —justru tinggi sekali harganya?? Kelihatannya mi sesuatu yang bertentangan (maka disebut “paradox”). Kan untuk memperoleh barang yang berguna kita mesti harus membayar harga yang tinggi.
Jawaban atas teka-teki tersebut harus dicari dalam pcrbcdaan antara Total Utility dan Marginal Utility. Utility Total dan air holeh dikata tak tcrhingga. Tetapi umumnya air tersedia dalam jumlah yang begitu rnelimpah sehingga Marginal Utilitynya praktis sama dengan 0. Padahal, penilaian orang terhadap air itu ditentukan oleh satuan terakhir (marginal): kalau air melimpah, kehilangan beberapa unit dinilai tidak apa-apa.
Tetapi situasi mi berubahjika air menjadi barang Iangka, seperti di daerah-daerah yang kekurangan air. Di sana air minum per liter mungkin lehih mahal daripada bensin per liter. Karenajumlah yang tersedia hanya sedikit, setiap liter air menjadi barang ber harga, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang paling penting seperti untuk minum dan niemasak.
Batu intan sebaliknya sangat langka, dan untuk memperolehnya, apalagi untuk me nambahnya diperlukan biaya yang tidak sedikit. Maka MU-nya tinggi, dan orang ber sedia membayar harga yang mahal untuk memperolehnya.
lngatjuga perbedaan antara barang ekonomi dan barang bebas. Barang ekonomi adalah ‘terbatas’, tersedia dalam jumlah yang kurang daripada yang dibutuhkan untuk semua orang, dan perlu di-usaha-kan. Oleh karena itu diperjualbelikan dengan harga tertentu. Tetapi barang bebas tersedia dalam jumlah melimpah sehingga tidak ada harganya dan tidak diperjualbelikan. Total Utilitynya mungkin sangat hesar, tetapi Marginal Utililty sama dengan 0.
Hukum Gossen ke-Il atau keseimbangan konsumen
Prinsip dasar dirumuskan dalam Hukum Gossen ke-Il, yang pada pokoknya mengatakan:
” Seorang konsumen yang bertindak rasional akan membagi-bagi pengeluaran uangnva untuk membeli berbagai macam barang sedemikian rupa sehingga kebutuhan-kehutuhannva terpenuhi secara seimbang, artinya sedemikian rupa sehingga rupiah terakhir yang dibelanjakan untuk membeli sesuatu memberikan marginal utility yang sama, entah dikeluarkan untuk membeli barang yang satu atau untuk membeli barang yang lain”.
Jalan pikiran dapat diringkas sbb.:
Keputusan untuk membeli suatu barang tertentu (banang A) didasarkan atas perbandingan antara Marginal Utility (manfaat, kepuasan) yang diperoleh dan konsumsi barang tsb., dan harga yang harus dihayar untuk memperolehnya. Perbandingan tsb. dapat ditulis: atau dengan kata lain: MU per Rp yang dikeluarkan.
Faktor-faktor yang ikut mempengaruhi perilaku konsumen
1. Faktor individual: Setiap orang mempunyai sifat, bakat, minat, motivasi dan selera sendiri. Pola konsumsi mungkin juga dipengaruhi oleh faktor emosional. Sebagian hal ini memerlukan bantuan ilmu psikologi untuk menjelaskannya. Tetapi ada juga faktor obyektif, seperti umur, kelompok umur (anak, remaja, dewasa, berkeluarga) dan lingkungan yang mempengaruhi tidak hanya apa yang dikonsumsikan tetapi juga kapan, berapa, model-modelnya, dan sebagainya.
2. Faktor ekonomi: Selain harga barang, pendapatan konsumen dan adanya sub stitusi, dan ada beberapa hal lain yang ikut berpengaruh terhadap permintaan sese orang/keluarga:
- lingkungan fisik (panas, dingin, basah, keririg, dsh.)
- kekayaan yang sudah dimiliki
- pandangan/harapan mengenai penghasilan di masa yang akan datang dan besarnya jumlah keluarga (keluarga inti, program KB)
- tersedia atau tidak kredit murah untuk konsumsi (koperasi,bank)
3. Faktor sosial orang hidup dalam masyarakat, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Telah disebutkan bahwa gaya hidup orang kaya menjadi contoh yang suka ditiru oleh golongan masyarakat lainnya (demonstration effect) pada hal pola konsumsi golongan kaya sebagian hanya untuk pamer (conspicuous consumption) karena barang dibeli justru karena mahal. Dalam masyarakat kita unsur ‘tidak mau kalah dengan tetangga’ masih amat kuat ! Juga pengaruh iklan ternyata kuat sekali.
4. Faktor kebudayaan, Pertimbangan berdasarkan agania dan adat kebiasaan dapat membuat keputusan untuk konsumsi jauh berbeda dengan apa yang diandakan dalarn teori. Misalnya keperluan korban, pakaian, peringatan han ke-7, ke-35, ke 100, dan ke- 1000 bagi orang yang telah meninggal, kebiasaan berhutang, tersedianya uang karena kehetulan mendapat giliran arisan, dsb.

Standard hidup (standard of living)

Standar hidup sering dipakai sebagai ukuran untuk membandingkan tingkat kese jahteraan antara berbagai bangsa (atau antara berbagai golongan di dalam batas satu negara). Standar hidup merupakan semacam pedoman tentang apa yang dipandang sebagai taraf hidup (rata-rata) yang layak, wajar atau pantas, oleh karena itu dikejar oleh perorangan/keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu hasil yang diharapkan dalam usaha pembangunan ekonomi nasional adalah meningkatnya taraf hi dup masyarakat: kehutuhan dasar terpenuhi secara merata bagi seluruh rakyat (GBHN).
Taraf hidup yang kenyataannya tercapai mungkin masih jauh di bawah standar yang digariskan. Taraf hidup menunjukkan pada barang dan jasa yang secara nyata di konsumsi oleh masyarakat. Biaya hidup menunjuk pada jumlah pengeluaran uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.
Salah satu contoh standar hidup minimal adalah Kebutuhan Fisik Minim (KFM) seperti yang disusun oleh Departemen Tenaga Kerja. KFM mencakup biaya hidup minimal yang diperlukan (otch bujang, keluarga dengan 2 atau 3 anak) agar dapat dj sebut hidup layak. Kenyataannya masih banyak tenaga buruh mendapat upah kurang dan KFM-nya!

POLA PENGELUARAN KONSUMSI

Agar pembahasan tentang perilaku konsumen cukup realistik baiklah kita per hatikan hagaimana ke masyarakat kita mengeluarkan uangnya untuk kon sumsi. Di atas sudah disinggung hahwa ada hanyak faktor yang ikut meinpengaruhi hagai maria dan untuk apa para konsurnen membelanjakan pendapatan mereka: hesar iva kehi illulir angeota keluarga. setera dan kehiasaan, lingkungan sosial, kebijaksanaan dalam mengatur keuangan keluarga, dli. Tetapi dalam masyarakat kita faktor yang mungkin terpenting adalah: berapa penghasilan yang tersediabagi keluarga itu, dan bagaimana pembagian pendapatan nasional di antara para warga masyarakat.
Ukuran yang paling umum dipakai untuk menunj ukkan tingkat kemakmuran suatu bangsa adaiah pendapatan per kapita, yaitu pendapatan nasional dibagi jumlah pen duduk. Pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 1985 tclah mencapai sekitar $ 530. Angka mi adaiah angka rata-rata, yang belum mengatakari apa-apa mengenai pembagian pendapatan di antara para warga masyarakat. Kenyataannya ada perbedaan yang menyolok dalam hal besarnya pendapatan yang dinikmati oleh berbagai orang dan golongan dalam masyarakat. Juga terdapat perbedaan hesar antara daerah kota dengan daerah pedesaan, serta antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Teori Prilaku Produsen

Tugas pokok seorang produsen adalah: melaksanakan produksi dengan menghasilkan barang dan jasa untuk masyarakat. Pertimbangan produsen dalam menentukan berapa yang akan dihasilkan dan ditawarkan pada perbagai tingkat harga ialah dengan membandingkan hasil dan pengorbanannya.
1. Hasil berupa barang dan jasa, yaitu produk atau output, yang dinilai dalam uang menurut harga pasar menjadi penerimaan.
2. Pengorbanan yaitu faktor-faktor produksi yang digunakan sebagai input, dinilai dalam uang menurut harga pasar menjadi biaya produksi.
Perusahaan atau satuan produksi ada dalam berbagai bentuk dan ukuran, dari usaha kecil,usaha menengah, hingga perusahaan raksasa dengan jumlah ribuan karyawan. Semua satuan produksi itu menghadapi masalah ekonomi yang sama. yaitu bahwa diperlukan input = biaya untuk mencapai hasil penerimaan.
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu untuk suatu proses produksi, dinyatakan dalam uang menurut harga pasar yang berlaku. Dalarn arti ekonomi, semua balas jasa yang seharusnya dibayarkan kepada para pemilik faktor produksi merupakan biaya, termasuk laba normal.
Tinggi-rendahnya biaya produksi tergantung dari :
1. harga input faktor produksi
2. Persentase dari kapasitas produksi yang dipergunakan (berhubungan dengan biaya tetap persatuan)
3. Perbandingan (proporsionalitas) antara faktor-faktor produksi serta kombinasinya.
4. Besar-kecilnya luas usaha.
Karena input faktor produksi ada yang tetap dan ada yang berubah-ubah. maka biaya produksi pun dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1. Biaya tetap (Fixed Cost = FC) >>Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah jika ada perubahan dalam jumlah output hasil produksi (sampai pada batas tertentu).
2. Biaya variabel (Variahel Cost = VC). Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah tergantung besar-kecilnya jumlah produk yang dihasilkan.
3. Biaya total (Total Cost = TC) adalah jumlah biaya tetap dan biaya variabel.
Dalam jangka pendek kapasitas produksi suatu perusahaan dinyatakan tetap. Produsen dapat memperbesar jumlah outputnya hanya dengan menggunakan kapasitas produksi yang ada itu dengan lebih intensif dengan menambah faktor produksi variabel. Namun tidak cukup waktu untuk memperbesar kapasitas produksinya dengan menambah modal tetapnya (tanah. gedung, mesin. dsb). Jangka waktu yang cukup lama untuk menambah kapasitas produksi disebut jangka panjang.
Dalam jangka pendek bila seorang produsen hendak memperbesar jumlah produksinya (dengan lebih mengintensifkan kapasitas produksi yang ada), maka akan timbul gejala ‘diminishing returns”.
Hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (Law of Diminishing Returns menyatakan, kalau ada (paling sedikit) satu input yang tetap (misalnya tanah atau pabrik dikombinasikan dengan input variabel (misalnya tenaga kerja) yang setiap kali ditambah dengan satu satuan. maka output atau hasil total (Total Product) akan bertambah juga. tetapi mulai saat tertentu tambahan hasil (Marginal Product) akan menjadi kurang dan proporsional (= diminishing returns meskipun pada permulaan mungkin lebih dan proporsional (= increasing returns).
Bila dinyatakan dalam rupiah, ini berarti bahwa biaya produksi total (TC) suatu saat akan naik dengan lebih dan proporsional (= increasing cost). meskipun pada permulaan kenaikan/tambahan biaya total mungkin kurang proporsional. Dirumuskan dengan kata lain lagi: mulai suatu saat Marginal Cost yaitu bertambahnya biaya total bila produksi ditambah dengan satu satuan. akan semakin meningkat.
Oleh karena itu dalam jangka pendek kurve biaya per satuan (AC) maupun kurve biaya variabel per satuan (AVC) berbentuk seperti U karena pada saat tertentu dengan bertambahnya produksi biaya persatuan semakin naik.
Output atau hasil produksi dijual dipasar dan mendatangkan penenimaan (Revenue).
• >>Penerirnaan total (Total Revenue = TR) adalah jumlah produk dikalikan dengan harga jualnya (TR = P x Q).
• >>Bila TR lebih besar daripada biaya total (TC), perusahaan memperoleh laha. Sebaliknya bila TR Iehih rendah daripada TC perusahaan mengalansi kerugian.
• >>Apabila TR = IC perusahaan tidak mengalami rugi dan juga tidak mendapatkan laba. Situasi ito disebut Break-even atau Titik Impas.
Dalam bentuk pasar persaingan murni (Average Revenue = AR) sama dengan jual persatuan (AR=P) dan diperoleh dari TR: Q. ( TR = P x Q). Penerimaan marginal (Marginal Revenue = MR) ialah tambahan penerimaan total jika produksi (penjualan hasil produksi) ditambah dengan satu satuan.
Perusahaan dikatakan dalam keadaan mengalami “keseimbangan” (equilibrium of the firm) Bila jumlah produksi diatur sedemikian rupa sehingga perusahaan mencapai laba maksimal. Hal tertentu terjadi apabila MC = MR.
Dalam jangka pendek perusahaan mungkin mencapai laba ekonomis (lebih daripada laba normal). Dalam jangka panjang perusahaan yang bekerja di pasar bebas (persaingan) akan dipaksa oleh persaingan untuk berproduksi pada tingkat biaya yang serendah-rendahnya.
Dalam jangka panjang semua sumber daya adalah vaniabel. Memperluas usaha dalam jangka panjang ada keuntungannya (economies of scale) tetapi juga ada kerugiannya dis-econuioies of scale).
Dengan demikian pertimbangan biaya produksi dan penenimaan bersama-sama menentukan Supply suatu perusahaan.
Supply melayani permintaan masyarakat. Jika permintaan masyarakat bertambah, output dapat diperbesar.
Dalam jangka pendek supply agak inelastis. karena produksi hanya dapat diperbesar dengan menambah input variabel atau mengintensifkan pemakaian kapasitas produksi yang ada, sehingga biaya produksi per satuan cenderung naik.
Kurve supply perusahaan sama dengan kurve MC-nya (mulai dari perpotongan kurse AVC dan kurve MC).
Dalam jangka panjang supply bersifat elastis. karena cukup waktu untuk menyesuaikan produksi dengan permintaan masyarakat.
Permintaan dan penavaran herasama-sama menentukan harga pasar.

MONOPOLI
PENGERTIAN MONOPOLI

Monopoli ialah keadaan pasar dimana:
1. hanya ada satu produsen/penjual yang menguasai seluruh suplai suatu barang/jasa tertentu;
2. barang/jasa yang dijual fidak ada pen gganti (substitut) yang baik;
3. pasaran atau bidang usaha tbs. tak dapat (atau sulit sekali) dimasuki pihak lain (ada entry barriers rintangan untuk memasuki bidang itu).
Istilah monopoli berasal dan kata mono satu/tunggal dan polein = menjual. Jika hanya ada satu pembeli untuk barag tertentu biasanya juga disebut monopoli, atau dengan istilah tersendiri monopsoni.
Monopoli dapat terjadi karena beberapa alasan:
1. Monopoli yang ditetapkan oleh pemerintah (monopoli negara)
Ada monopoli yang dipegang oleh (perusahaan) negara. misalnya Perum Postel mempunyai monopoli dalam penyelenggaraan pos, telepon dan telekoinunikasi: Bank Indonesia mempunyai hak tunggal untuk mengedarkan uang kertas dan logam: Perum KA mempunyai monopoli dalam hal jasa pengangkutan dengan kereta api; Pertamina untuk distribusi minyak tanah dalarn negeri.
Monopoli dipegang oleh negara berdasarkan pertimbangan kepentingan urnum, misalnya cabang produksi yang penting untuk pertahanan nasional atau yang “menguasai hajat hidup orang banyak”; untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan ekonomi; kerap kali juga berdasarkan pertimbangan ekonomi: lebih baik hanya ada satu sistem telepon, satu sistem kereta api, dsh.
2. Monopoli di kalangan usaha swasta bisa terjadi karena beberapa sebab.
a. Sebab utama munculnya monopoli adalah faktor skala ekonomi (econoinicc of scale), yang memungkinkan produksi besar-besaran dengan biaya produksi per sattian yang lebih rendah. Ada beberapa cabang produksi yang memenlukan modal dalam jumlah yang begitu besar, sehingga praktis tidak mungkin dilaksanakan olch hanyak produsen, dan lebih efisien dikerjakan otch satu perusahaan saja. Apalagi bila luas pasar tidak begitu besar. Misalnya pabrik baja, pabnik kapal terbang.
b. Karena satu perusahaan menguasai (control) pengadaan atau pasar suatu sumber daya alam tertentu, — misalnya bahan galian tertentu hanya ditemukan di satu daerah tertentu; keadaan alamliklim khusus sepenti sumber air, pantai indah, jenis temhakau tertentu, atau juga keahlian istimewa yang tidak dapat ditiru (bintang film, seninlan, dli.). Dewasa ini perlu ditambahkan bila satu perusahaan menguasai suatu teknologi tertentu yang dilindungi oleh hak patent. Keunggulan leknologi clapat memberikan kedudukan monopoli (sernentara) kepada perusahaan yang menjadi pelopor pemhaharuan (=inovasi) hasil penelitian dan pengembangan (litbang) haikitU produk-produk baru atau teknik produksi sang lehih efisien. Kedudukan monopoli mi tentu saja mendorong perusahaan lain untuk meniru teknik produksi barn Itu atau mnenghasilkan produk yang lebih unggul lagi Dengan dernikian kedudukan monopoli karena keunggulan teknologi ini dapat tersisihkan oleh pendatang haru.
c. Karena dibeni kedudukan monopoli oleh pemerintah atau undang-undang, misalnya hak cipta, hak patent, hak oktroi (= hak atas karya ilmiah atau penemuan ilmiah yang selama sekian tahun tidak boleh ditiru oleh pihak lain). Juga hak konsesi untuk eksploitasi sumber-sumber alam atau bahan galian tertentu. Bisa juga lembaga tertentu diberi hak tunggai untuk mengurus impor, ekspor atau pengadaan barang/bahan tertentu (“tata niaga”).
d. Karena kerjasama beberapa perusahaan, dengan maksud untuk menguasai pasar dengan menghilangkan persaingan antar mereka (mungkin henupa persekongkolan dengan maksud untuk menjatuhkan saingannya).

Kedudukan monopoli

Monopoli “murni” tidak begitu banyak. Yang memang sering kali terjadi adalah “monopoli sebagian”, yaitu satu perusahaan menguasai sebagian besar (tetapi tidak seluruh) suplai suatu barang/jasa. ini terjadi misalnya bila di samping satu perusahaan yang besar masih ada beberapa perusahaan kecil yang rnenghasilkan harang yang sarna, atau monopoli terbatas pada suatu daerah tertentu saja. Suatu perusahaan yang menguasai sebagian besar pasaran sehingga dengan menaikkan atau menurunkan harga jualnya sendiri dapat mempengaruhi harga pasar dikatakan mempunyai kedudukan monopoli.
Sering kali di samping satu perusahaan yang besar masih ada sejumlah perusahaan lain yang sejenis tetapi lebih kecil. Kalau perusahaan yang besar itu menaikkan (atau menurunkan) harga jualnya, perusahaan-perusahaan yang lain terpaksa akan harus ikut. Situasi mi disebut price leadership.
Monopoli belum tentu berarti perusahaan raksasa. Sebab monopoli mungkin terbata hana pada atu daerah, hahkan pada satu pasar saja. Misalnya kalau biaya transport suatu harang relatif tinggi dihandingkan dengan nilai barangnya maka pasaran barang tsb. terbatas dan dengan mudah dapat terjadi bahwa suatu perusahaan mendapat kedudukan monopoli di daerah itu.

Prilaku Produsen Monopolis

Produsen atau penjual yang mempunyai kedudukan monopol’ itu nienguasai (selurUh/sebagian hesar) suplai suatu barang, dan oleh karena itu dapat menentukan sendiri hargajualnya. Maka apa yang akan dilakukan oleh produsen monopolis itu? Dan hagairnana itu berbeda dengan situasi dalarn pasar dengan persaingan murni?
Perbedaan pokok antara monopoli dan persaingan murni adalah dalam hal permintaan yang dihadapi. Dalam persaingan murni produsen/penjual tidak bisa menentukan sendiri harga pasar. karena masing-maSiflg produsen/penjUal terlalu kecil dibandingkan dengan seluruh suplal di pasaran. Maka semua harus ‘menerima’ harga pasar yang berlaku (maka disebut “price taker’), dan hanya bisa menyesuaikanjumlah produksinya dengan harga pasar yang berlaku, sambil mencoba menekan biaya produksinya. Tetapi berapapun yang ditawarkan oleh produsen/penjual individual akan dapat terjual pada harga pasar yang berlaku. Dengan kata teknis: P = MR yang bila digambarkan dalam grafik berupa garis horisontal.
Lain halnya apabila hanya ada satu produsen/penjual yang menguaSai seluruh (atau sebagian besar dan) suplai barang tertentu (yang tak ada penggantinya yang baik!). Dalam hal ini produsen/penjual yang satu itu harus melayani seluruh permintaan pasar. Karena ia penjual tunggal. maka dia sendirilah yang dapat menentukan berapa yang akan diproduksikafl dan berapa harga jualnya. Monopolis mempunyai kedudukan kuat di pasaran. justru karena ia tidak hanya dapat menyesuaikan din dengan harga pasar yang berlaku. tetapi ikut menentukan sendiri harga pasar itu yaitu dengan menentukan harga jualnya sendiri dan atau jumlah outputnya sendiri. Oleh karena itu ia disebut “price setter” atau “price maker”.

Harga setinggi – tingginya

Kerap kali dikatakan: seorang monopolis tentu akan menetapkan harga setinggi mungkin, agar mendapat laba yang sebesar-besarnya. Benarkah pandangan itu?
Harga setinggi-tingginya itu memang suatu kemungkinan. Tetapi harga tinggi belum tentu berarti laba besar Padahal yang penting adalah selisih antara TR dan TC. Sang produsen harus membandingkan penerimaanya (hasil penjualan, jadi TR dan MR) dengan biaya produksi (TC dan MC). Sebab pedoman MC = MR juga berlaku untuk monopolis!
Bentuk kurve-kurve biaya produksi (TC, MC, AC) untuk produsen monopolis pada dasarnya sama saja dengan kurve-kurve biaya produsen lainnya. Tetapi dalam hal penerimaafl (TR dan MR) ada perbedaan yang penting dibandingkan dengan situasi persaingan murni.
Seorang monopolis seorang diri menguasai seluruh suplai suatu barang. Berarti juga seorang din harus melayani seluruh demand. Jadi yang dihadapinya adalah kurve permintaan pasar. Dan kurve permintaan pasar itu turun ke kanan bawah. Artinya pada harga tinggi, jumlah yang mau dibeli oleh masyarakat (= jumlah yang bisa dijual oleh produsen ybs.) hanya sedikit. Memang, monopolis menguasai supply. Tetapi ia tidak menguasai demand dan dia berhak menetapkan sendiri harga jualnya, namun apabila harga jual yang ditetapkan terlalu tinggi akibatnya barang yang terjual sedikit, kalau dia mau menjual lebih banyak maka dia harus menurunkan harga jualnya.

PERSAINGAN MONOPOLISTIK

Bentuk pasar persaingan murni (banyak produsen kecil sehingga masing-masing tidak dapat mempengaruhi harga pasar) maupun monopoli (satu penjual yang menguasai seluruh suplai untuk barang tertentu) merupakan dua bentuk ‘ekstrem’. Kenyataannya bentuk pasar untuk banyak barang (terutama hasil produksi pabrik) berada di tengah-tengah kedua ekstrem tadi. Bentuk pasar di tengah-tengah kedua ekstrim tersebut disebut persaingan monopoli stik.

PENGERTIAN PERSAINGAN MONOPOLISTIK

Bentuk pasar persaingan monopolistik teijadi apabila:
1. ada beherapa produsen/penjual: tidak banyak sekali, tetapi Iebih dan satu, yang masing-masing menguasai hanya sebagian dan seluruh suplai;
2. masing-masing menghasilkan barang yang sejenis, yang kurang Icbih sarna, tetapi thdfferensiasikan (dibuat berbeda) dalam ha! namalmerklcap dagang/kualitas/ bentuk pembungkusan, dl!. sehingga kelihatan berbeda dan yang lain;
3. produsen-produsen baru dapat memasuki bidang usaha ybs., meskipun tidak selalu mudah.
Misalnya perusahaan rokok kretek Gudang Garam mernpunyai kedudukan monopoli dalam hal produksi rokok kretek yang hermerk Gudang Garam — karena tak ada perusahaan lain yang boleh memakai atau meniru merk itu. Tetapi rokok kretek Gudang Garam harus bersaing dengan rokok kretek merk-merk lain, sebab merk rokok kretek ada hanyak (ada barang substitusi yang baik, yang dengan mudah bisa menggantikan). Demikian pula halnya dalam produksi mobil, sepeda motor, sabun, kosmetika, pasta gigi. obat-obatan, dll.
Akibat situasi ini ialah bahwa tidak ada satu harga pasar yang berlaku umum untuk satu macam barang. melainkan bermacam-macam harga untuk bermacam-macarn barang yang sebenarnya sama atau hampir sarna, sehingga sulit bagi konsumen untuk membanding-bandingkan harga. dan keadaan pasar men jadi kurang “sempurna”.
Produsen dalam bentuk pasar ini mempunyai sedikit kebebasan untuk menentukan harga jualnya sendiri. Tetapi tidak sebehas monopolis. Sebab ka!au harganya terlalu jauh menyimpang dan harga barang-barang sejenis, ia akan kehilangan pasarannya, karena masyarakat akan membeli barang pengganti yang lebih murah. Jadi kurve permintaan yang dihadapi oleh perusahaan tidaklah horisontal (seperti dalam persaingan murni) melainkan turun ke kanan-bawah, dan biasanya agak elastis.
Pedoman untuk penentuan jurnlah produksi yang paling menguntungkan sama seperti dalam hal monopoli: Q terbaik adalah dimana MC = MR.
Mengingat adanya persaingan dan bararig-barang yang sejenis, perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik akan dapat memperbesar labanya tidak pertama-tama dengan menaikkan harga jualnya, melainkan dengan menekan biaya-biaya produksi serta meningkatkan efisiensi kerja.

Oligopoli

Suatu bentuk khusus dan persaingan monopolistik adalah oligopoli dan duopoli. ciri khas bentuk pasar OLIGOPOLI adalah bahwa produksi didominasi oleh “hanya sedikit” perusahaan. Misalnya hanya tiga atau empat perusahaan raksasa menguasai schagian besar (70-90%) dan pasaran.
Dalam DUOPOLI hanya ada dua perusahaan yang menguasai seluruh suplai barang tertentu.
Bila jumlah perusahaan/produsen dalam suatu cabang usaha hanya sedikit, mi henarti bahwa masing-masing menguasai pangsa (bagian) pasar yang. cukup besar, sehingga tindakan atau kebijakan perusahaan yang satu mempunyal pengaruh terhadap yang lain-lain, dan sangat mungkin menimbulkan reaksi dan saingannya. Saling pengaruh-mempengaruhi antarperusahaan mi merupakan ciri khas oligopo!i. dan mi sangat mempersu!it analisis teori. Misalnya besarnya MR produsen yang satu tidak tiapat dipastikan, karena juga tergantung dan keputusan saingannya.
Timbulnya bentuk pasar oligopoli disebabkan oleh karena proses produksi menuntut dipergunakannya teknologi modern yang mendorong ke arah produksi secara hesar-besaran. Mungkin juga merupakan akibat merger dimana sejumlah perusahaan yang kecil digabung menjadi satu perusahaan raksasa.
Barang yang dihasilkan atau dijual mungkin sama (untuk bahan mentah seperti haja, timah, minyak), mungkin juga didiferensiasikan, seperti halnya produksi barang konsumsi misalnya mobil, sepeda motor, sabun, rokok. kosmetika, dll. Bila produk diditerensiasikan, biasanya disertai usaha promosi secana besar-besaran pula. Untuk menghindari perang harga, perusahaan-perusahaan oligopolis sering kali mengadakan

*****

 

Komentar ditutup.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: