RSS

AKAR GERAKAN ORIENTALISME ( Dari Perang Fisik, Menuju Perang Pikir )

AKAR GERAKAN ORIENTALISME

( Dari Perang Fisik, Menuju Perang Pikir )

Penulis : DR. Adnan M. Wizan

Dirangkum Oleh : Bayu Pramutoko,SE

  

Buku ini diawali dengan sebuah pewacanaan orientalisme oleh pengarang dengan memberikan ilustrasi tajam yang memperlihatkan keburukan pemahaman kaum orientalis dalam memandang aspek agama Islam dan budaya timur yang kemudian meluas menjadi dimensi ideologi, agama dan politik menurut pengarang  Orientalisme  atau kajian ketimuran, secara terminologis biasanya identik dengan paradigma berpikir. Atau lebih tepatnya pengkajian terhadap peradaban masyarakat Timur secara umum, dan peradaban Islam dan masyarakat Arab secara khusus. Pada mulanya wilayah kajian orientalisme hanya terbatas pada kajian keislaman, peradahan Islam, bahasa dan sastra Arab. Kemudian wilayah kajian ini meluas dan mencakup seluruh aspek kajian ketimuran , yakni mulai dan aspek bahasa ketimuran, agama-agama Timur, adat istiadat, hingga budaya ketimuran. Fokus utama kajian orientalis adalah agama Islam dan Bahasa Arab, karena keduanya merupakan faktor terbesar dan ketertarikan orientalis dan menggambarkan kontroversi gagasan, politik dan teologi yang mewarnai kehidupan masa kini.

Studi orientalisme, yang bertujuan mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab, sebenarnya merupakan inspirasi dan generasi masyarakat Eropa dan negara Barat, sekaligus sebagai tindak lanjut dan Perang Salib seperti yang akan dijelaskan pada uraian tentang sejarah munculnya orientalisme. Orientalisme, sebagaimana penuturan para orientalis, dikategorikan scbagai materi ilmiah yang telah dikenal di dunia internasional dan menjadi Isi wacana populer pada dunia akademis. Orientalisme telah hampir dapat dijumpai pada setiap Universitas Barat, hal ini dapat dilihat dengan banyaknya jumlah sarjana dan pengkaji di berbagai bidang spesifikasi Era ketimuran yang memperoleh dana sebagai jaminan masa depan mereka dan kontribusi dalam menjaga di keberlangsungan dunia akademik. Seluruh praktisi di bidang ini merasakan bagaimana sempurnanya kekuasaan, kekuatan Pemerintah, Dewan Parlemen, dan Seminaris Gereja yang memposisikan segala kcmungkinan, di bawah payung undang-undang mereka demi terlaksananya kajian-kajian, penelitian, interpolasi dan untuk memelihara minat dan pengetahuan serta semangat praktisi terhadap kajian orientalisme. Disiplin keilmuan ini juga memiliki faedah yang sangat besar baik sccara politik maupun idiologi bagi negara Barat, sebagaimana yang dicontohkan oleh pemerintahan negara-negara Barat pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran yang menyarankan kepada seluruh lulusan tingkat menengah untuk mengikuti berbagai program studi orientalisme di Universitas-universitas.

Orientalisme juga bertujuan membuat bingung kalangan non-muslim untuk menerima dan memeluk agama Islam melalui imperialisme kolonialis dan kekuatan ekspedisi missionaris dalam rangka zionisme dan kristenisasi seperti yang telah dicapai di wilayah Afrika dan Asia Timur.

            Para orientalis, umumnya adalah keturunan Yahudi, Nasrani dan setiap orang yang mengikuti jejak dan terinspirasi oleh mereka, yaitu generasi non-Yahudi dan non-Nasrani, termasuk kaum muslimin yang kebarat-baratan (westernist), yang keluar dari agama Islam karena sependapat dengan gagasan dan ide-ide orientalis. Kajian orientalisme pada mulanya hanya dilakukan oleh para pendeta, cendekiawan, dan missionaris. Sebagian dan mereka tertarik pada teologi dan sebagian lagi sangat peduli pada kcbangkitan dan pendidikan gereja, terutama di abad pertengahan Artinya, pada masa itu, para pendeta melakukan spesifikasi pada misi-misi missionaris, penginjilan dan berpartisipasi membendung segala kesulitan dan rintangan imperialisme kolonialis serta mempermudah terealisasikannya cita-cita mereka untuk menghancurkan Islam, baik dengan cara memata-matai atau melalui konspirasi yang menggemparkan.     Walaupun pengakuan dan paradigma orientalis mengalami kontradiksi, ternyata keduanya mengarah pada satu titik, yaitu menghancurkan Islam. Seluruh orientalis berseteru dalam memusuhi Islam padahal mereka tidak mengetahui realita Islam secara pasti dan penguasaan mereka kurang tentang bahasa Arab. Orientalis menciptakan fitnah berdasarkan opini negatif dan penuh permusuhan sebagai warisan dan Perang Salib. Sedangkan setiap individu yang berpangku tangan atas segala rekayasa yang ditujukan kepada Islam, adalah tidak jauh berbeda dengan para orientalis, sebab sikap diam diri menandaskan keabsahan tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh orang lain. Orang yang berdiam diri atas kebenaran adalah sama seperti musuh dalam selimut.

            Secara konvensional, peradaban Barat berpijak pada materialisme teologis dan berdiri di atas reruntuhan peradaban Romawi yang secara teologis menyembah berhala, bahkan Barat menjadikan Yesus scbagai tameng untuk menutupi realitas yang ada. Karena itu, Timur (the orient) adalah suatu bagian integral dan peradaban dan kebudayaan material Eropa berdasarkan birokrasi-birokrasi kolonial dan gaya-gaya kolonialisme. Orientalisme terkadang muncul di tengah hiruk pikuk masyarakat yang seakan-akan memiliki orientasi akademis dan mengkaji peradaban timur.

Dr. Musthafa al-Siba’i telah memetakan watak orientalis secara global sebagai berikut ini:

1.      Buruk sangka dan salah paham tcrhadap maksud, tujuan dan problematika Islam.

2.      Buruk sangka terhadap masyarakat, pemuda, ulama, dan tokoh-tokoh Islam

3.      Mendeskripsikan masyarakat Islam pada beberapa abad yang silam, khususnya periode pertama Islam sebagai masyarakat yang bebas, dimana para pembesar dan pcmimpinnya suka membunuh egoisme kaum lemah.

4.      Mendeskripsikan peradaban Islam dengan gambaran keliru dan mendiskreditkan esensi, pcngaruh dan kontribusinya.

5.      Minimnya pengetahuan orientalis tentang realitas citra masyarakat Islam dan berusaha memberikan pernyataan (statement) tentang moralitas bangsa dan tradisi negara Islam.

6.      Menjadikan teks bcrdasarkan rasio dan kepentingan-kepentingan mereka, mendiskreditkan teks tersebut serta menginterpretasikan sebuah teks untuk mewujudkan impian-impian material mereka.

7.      Mereka terkadang merubah manuskrip-manuskrip dengan maksud menciptakan kerancuan dan kekacauan, sebagaimana bodohnya mereka memahami simbol-simbol keagamaan hingga membentuk pola-pola perubahan baru lainnya.

8.      Mereka mengklaim sumber-sumber referensi yang telah mereka nukil. Penukilan itu, misalnya, dan buku sastra yang dijadikan patokan untuk sejarah hadis Nabawi, dan buku-buku sejarah umum yang dijadikan patokan untuk scjarah syari’at Islam dan fiqih.

            Semua ini merupakan sikap orientalis yang menuruti hawa nafsu dan imaji-imaji negatif mereka. Bagaimana mungkin dapat mendatangkan sebuah tema dan metode ilmiah dan suatu referensi sebagai suatu patokan dan rujukan pengetahuan lainnya?. Bagaimana mungkin untuk meyakinkan pcmbaca tentang hakikat bahasa dan kaitannya dengan gramatikal, dengan berargumen dan memberikan statemen dan ilmu kedokteran? Apakah ilmu kedokteran dan gramatikal bahasa (nahwu) saling berkaitan?. Pernyataan ini merupakan ungkapan seseorang yang telah disempitkan mata hatinya oleh Allah. Berkenaan dengan ini Allah swt telah berfirman:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia akan nielapangkan dadanya (menieluk agama Islam). Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah Menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. “

 

            Orientalisme memiliki tujuan yang beragam dan bentuk yang dinamis dan masa ke masa, dan satu kondisi menuju kondisi lainnya. Namun orientalisme tidak terlepas dan tujuan utamanya, yaitu menghancurkan Islam dan masyarakatnya. Orientalisme yang datang sebelum E.W. Lane, E. Renan, E. Sacy dan selain mereka, memiliki kesamaan semangat orientalisme yang terwarisi oleh generasi berikutnya hingga masa sekarang ini. Orientasi umum mereka dalam melakukan studi ketimuran adalah mencetak ulang pengalaman masa lalu walaupun pola-pola penginjilan telah meng alami modifikasi. Bagi mereka, modifikasi peng.injilan adalah untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola kontemporer.

            Karya-karya tentang studi orientalisme memiliki keragaman, baik dan segi kualitas maupun kuantitasnya. Sebagian karya itu telah membentuk sistem studi ketimuran dan orientasinya pada Universitas Barat. Sebagian lagi terfokus pada perkembangan orientalisme, tujuan-tujuannya dan hasil-hasil yang dicapainya. Sebagian lagi melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan studi orientalisme guna mencerahkan titik balik peradaban.

Objek dan sasanan terpenting yang diupayakan orientalis adalah menjadi manusia-manusia yang mendustai kebenaran, membuka hati bagi kesesatan dan kekufuran, berdasankan finman Allah:

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah  kau jadikan diantara mereka penolong-penolong(Mu) , hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika inereka berpaling, tawan dan  bunuhlah dia dimana saja kainu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong”.5

            Imaji-imaji dan rekayasa orientalis tentang Nabi Muhammad saw yang menandaskan bahwa beliau telah menciptakan al-Qur’an dan mengilustrasikan pada setiap manusia sebagai firman Allah adalah belahan masa lalu. Orang-orang musyrik dan kafir Makkah mengklaim bahwa al-Qur’an sebagai kebohongan seraya berkata: “Al-Qur’an adalah perkataan seorang penyair, pcrkataan orang gila, perkataan pemuda yang kerasukan jin, dan perkataan ahli sihir.” Mereka menandaskan pula, bahwa Al. Qur’an merupakan bagian dan mushaf-mushaf terdahulu. Ungkapan-ungkapan orientalis klasik

tersebut sama dengan apa yang diungkapan olch para orientalis kontemporer, sebab kekufuran mereka itu satu aliran, dan karena setiap musuh Islam bertujuan untuk menciptakan wewenang-wewenang yang dapat memutus relasi seorang muslim dengan kitab sucinya, Al-Qur’an Al-Karim, kemudian menciptakan skeptisisme tentang kenabian Muhammad saw.

            Karya-karya orientalis mengenai sejarah Nabi Muhammad saw dan dakwahnya, juga mencakup perbincangan tentang aqidah (teologi) Islam yang diawali dengan skeptisisme seseorang tentang kebenaran al-Qur’an, mengilustrasikan al-Qur’an sebagai buatan Muhammad saw, dan bahwa aktivitas para sahabat dalam melakukan kodifikasi Al-Qur’an sebagi scbagai firman Allah justru hanya akan mcnampakkan kesederhanaan mereka, serta keimanan sahabat pada Nabi Muhammad saw secara buta adalah karena hati nurani mereka telah disihir sekte baru yang memusuhi Islam, menjauhi agamanya dan mencegah penyebaran Islam.

            Sebelum mengelaborasi tujuan-tujuan lain dan studi orientalisme, selayaknya perlu ditarik suatu benang merah scbagai inti dan uraian sebelumnya. Dengan begitu, dapat memperjelas tujuan-tujuan orientalisme dalam ungkapan yang lebih simpel, yaitu sebagai berikut:

1.                  Mengklaim Islam sebagai agama yang sesat. Islam adalah kekuatan politik yang menerapkan tindakan represif dan intimidasi, ia menyebarkan teologi yang sesat dan memaksa suatu bangsa dengan menggunakan pedang untuk menerima teologi tersebut, sehingga manusia tunduk tanpa syarat. Dengan begitu, agama Islam bagaikan lingkaran setan yang menakutkan, yang menumpahkan darah, membunuh dan berperang. Islam juga dituduh sebagai agama yang digerakkan oleh rasionalitas dan pengetahuan yang keliru.

2.                  Mengklaim bahwa dakwah Nabi Muhammad saw dan kcnabiannya adalah tidak benar, kitab dan sunnah merupakan kreasi Nabi Muhammad, syariah Islam berpijak pada landasan peradaban yang telah silam. Mereka juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah penyembah berhala dan salah seorang pendusta Makkah.

3.                    Menghilangkan eksistensi Arab, bahasa, dan tradisinya yang kemudian melakukan reduksi scluruh makna peradaban Arab dan masyarakat muslim untuk merendahkan kondisi Arab, sebab nabi Muhammad adalahjuga keturunan Arab dan suku Quraish, disertai pelecehan terhadap bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an.

            Itu semua merupakan garis-garis besar dan tujuan utama orientalis, yang berimplikasi pada munculnya tujuan-tujuan lain dan aspek-aspek studi orientalisme. Seperti munculnya spesifikasi kajian tradisi Arab Islam yang memungkinkan untuk memikirkan berbagai standarisasi yang terdapat dalam karya-karya orientalis dan yang berkaitan dengan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an. Bahwa bahasa Arab tidak layak bagi masyarakat dan bangsa manapun terutama bagi bangsa selain Arab. Lalu orientalis menghidupkan kembali bahasa klasik yang telah mati, sebagaimana yang dilakukan Syambilyon yang menyelidiki batu petunjuk dan berusaha mcnghidupkan kembali bahasa Hirografi Mesir.

            Tujuan terbesar Yahudi dan Nasrani adalah melakukan kontrol(haimanah) terhadap bangsa lain yang dapat diselesaikan dengan media material, kebangkitan yang terdeteksi dan didorong oleh jiwa-jiwa yang hampa. Tetapi jalur ini tidak berfungsi bagi bangsa-bangsa Islam. Orientalis. Sebagaimana  Sebagian bcsar penulis orientalisme berpendapat bahwa secara garis bcsar orientalis terbagi ke dalam dua kategori besar. Pertama, sekelompok orientalis yang bertujuan mendiskreditkan kaum muslimin dan kebudayaan Islam, serta secara terang-terangan berusaha mcngucilkannya. Hal ini bisa dijumpai dalam karya-karya seperti Goldziher, Morgoliouth, Schatt, Guillaume, WM. Watt dan orientalis lainnya. Para orientalis dalam kategori ini dikenal dengan sikap mereka yang cendcrung mendiskreditkan Islam dan masyarakat muslim. Sedangkan, kedua adalah sekelompok orientalis yang berusaha bersikap netral dalam melihat Islam, masyarakat muslim, dan kebudayaannya.           

Salah seorang penulis dalam sebuah karyanya mengatakan: “Orientalis terbagi ke dalam dua kelompok, yakni :

1.                  Kelompok yang fanatik, dimana mereka dalam studinya tidak sedikitpun dijumpai nilai-nilai ilmiah yang valid.

2.                  Kelompok yang netral, mereka juga dibagi kedalam dua kelompok, yakni:

a.       Kelompok yang dikenal netral dalam disiplin keilmuannya, namun tidak jarang menggambarkan bahwa umat Islam bukan umat yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam perang, mereka adalah umat pengecut. Sedangka~ kebijaksanaan, ketenangan, dan pcngalaman Yang dimiliki oleh Shalahuddin al-Ayyubi hanyalah kebetulan. Sifat-sifat tersebut hanya pantas disandang oleh orang-orang Eropa, sementara orang Arab dan umat Islam tidak layak mendapatkannya, karena itu bukan etika dan karakter umat Islam Selanjutnya ia berpendapat bahwa umat Islam adalah orang kafir, ingkar, liar dan perampok.

b.                    Kelompok yang memiliki tujuan keilmuan murni, mereka menyingkap tradisi Arab dan Islam yang masih tersembunyi dengan tujuan pendidikan.

Dari penjelasan buku ini bisa kita perhatikan, begitu banyaknya masyarakat orientalis memojokan Islam dengan berbagai cara, dan merupakan kewaspadaan bai kita untuk tidak terpengaruh begitu dalam. Seni sastrapun menjadi tempat bagi mereka untuk memojokan Islam .

            Seorang sastrawan Jerman, G.E. Lessing (1142-1196 H) (1729-1781 M) menggubah syair drama pada tahun 1192 H/1778 M yang mengisahkan tentang Perang Salib pada masa Shalahuddin al-Ayyubi. Gubahan syair ini banyak mcngandung kesalahan sejarah yang berusaha memanipulasi dan menghina Islam dan umatnya. Mereka digambarkan oleh penyair sebagai sosok umat pengecut dan juga menggambarkan kepribadian Shalahuddin alAyyubi sebagai sosok pengecut dan penakut karena ia mengajukan rekonsiliasi dan terikat perjanjian dengan orang-orang Kristen dibawah kepemimpinan Raja Ritchard dengan ketentuan harus menyerahkan saudara perempuannya, Siti Syam kcpada salah seorang saudara Ritchard. Bagaimana mungkin hal ini tcrjadi pada seorang pemimpin yang adil, bcriman, dan berkata seperti Shalahuddin al-Ayyubi yang mengerti hukum-hukum Allah?

            Inilah pola-pola karya sastra Eropa yang digubah dalam bentuk puisi, kisah, dan sastra. pembicaraan tentang Islam yang dikemas dalam bentuk yang kacau tersebut adalah rekayasa orang-orang Eropa. Pembicaraan tentang ‘Timur secara umum dan Islam secara khusus dalam sebuah disiplin keilmuan menurut pandangan orang Barat merupakan persoalan yang berhubungan dengan masalah Gereja dan strategi imperialisme serta undang-undang yang tunduk dibawahnya. Pembicaraan mengenai Islam, peradaban, dan tradisinya tidak patut untuk ditampakkan hal-hal positifnya bahkan setiap sastrawan atau penulis lainnya harus mendiskrcditkan Islam dalam tulisannya, seakan-akan ia adalah agama yang terbelakang, hina, dan tidak dijumpai tanda-tanda kemajuan peradabannya.

            Orientalisme telah mengganggu wacana dan pola pikir masyarakat muslim, serta berusaha mem”barat”kannya. Bersandar pada orientalisme pula, seorang budayawan dapat memperbanyak keuntungan-keuntungan yang dapat diraup. Sedangkan pengctahuan sosial dalam orientasi gagasan pencliti generasi muslim, seperti politik Barat, telah menggeser paradigma pengajaran-pengajaran keislaman dan syari’atnya.

Tidak dapat dipungkiri ketika Allah berfirman: “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagai dan (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (‘kejalan yang benar,).’

            Maka bagi umat Islam, hendaknya menjadikan al-Qur’an, sunnah dan hadits Nabi sebagai sumber rujukan bersama dan mengaplikasikannya dijalan Allah untuk ketentraman dunia. Menariknya buku ini adalah semangat penulis dalam memberikan secara rinci berbagai persoalan yang berkaitan langsung dengan penjajahan kaum orientalis terhadapa pemikiran Islam yang selama ini mereka kecam sebagai biang keladi kerusakan umat manusia, sebagai sebuah jawaban dari berbagai tuduhan yang dilontarkan kepada umat Islam selama ini. Buku ini juga mampu memberikan pencerahan dari kebuntuan pola pikir yang sudah terlalu banyak mengadopsi pandangan barat yang sangat aktif mengampanyekan di kalangan masyarakat Islam.

Inilah yang sering kita dengar dan baca dan gagasan dan ide mereka yang tak kunjung padam mengenai relasi Islam dan peradabannya yang senantiasa mcngarahkan generasi masyarakat muslim. Telah kita ketahui, bahwa sumber semua itu adalah perang gagasan yang dimunculkan oleh gereja ketika melakukan pengkajian seputar Timur Islam dan kondisi masyarakat muslim agar dapat menghancurkan kondisi mereka dan memporak-porandakan agamanya. Perang gagasan tersebut teraplikasi dalam bentuk penerjemahan-penerjemahan, interpolasi, manipulasi dan imaji-imaji negatif tentang Islam dan masyarakatnya.

            Setelah itu, kemudian melebar pada peperangan militeristik yang teraplikasikan dalam ekspansiekspansi berkesinambungan dan pengamanan wilayah imperialisme kolonialisme dengan maksud menjadikan negara Islam dalam bentuk yang kebarat-baratan secara murni serta menjadikan prinsip-Prinsip positifistik sebagai kiblat yang esensial. Mencerai-beraikan masyarakat muslim, memecah belah persatuannya dengan menjadikan satu negara yang memiliki perundang-undangan ganda: kapitalisme dan sosialisme, dan paradigma beragam: sekulerisme dan etnisitas,komunisme, dan sebagainya ini:

1.         Mcnjernihkan kehidupan keislaman kontemporer dalam berbagai aspek yang telah diciptakan oleh missionaris, orientalis dan imperialis kolonialis dalam bentuk kurikulum, metodologi dan kebudayaan. Maka kita mengulangi bentuk-bentuk metodologis di sekolah-sekolah yang selaras dengan teologi dan tuntutan peradaban kita dan eksistensi kita sebagai

            Inilah pola-pola karya sastra Eropa yang digubah dalam bentuk puisi, kisah, dan sastra. pembic~aan tentang Islam yang dikemas dalam bentuk yang kacau tersebut adalah rekayasa orangorang Eropa. Pembicaraan tentang ‘Timur secara urnum dan Islam secara khusus dalam sebuah disiplin keilmuan menurut pandangan orang Barat nierupakan persoalan yang berhubungan dengan masalah Gereja dan strategi imperialisme serta ~ndang-undang yang tunduk dibawahnya. Pembicaraafl mengenai Islam, peradaban, dan tradisinya tidak patut untuk ditampakkan hal-hal positifnya bahkan setiap sastrawan atau penulis lainnya harus mendiskrcditkan Islam dalam tulisannya, scakanakan ia adalah agama yang terbelakang, hina, dan tidakdijumpai tanda-tanda kemajuan peradabannya.

            Ini merupakan salah satu metode yang dipraktckkan oleh para sastrawan dalam tulisan-tulisan niereka tentang Islam sebagaimana dijumpai dalam kaiya-karya sastra yang berkaitan dengan Timur dan Islam karya Geoffery Chaucer (741-803H)/(13401400M), kirya Bernard Mandcville (108 1-1 146H)I (l670-1733M), karya Wiliam Shakeaspere (972l025H) /(1564-1616M), begitu juga dalam karya John Dryden (1041-1112H)/(1631-1700M), Alexander Pope (1100-1 157H) /(1688-1744M), G. Byron (1203-1421 H)! (1788-1 824M). PenulisPeflulis lain mengatakan bahwa ‘Timur adalah negara terbelakang dan berkedudukan rendah. Jika mereka berkata tentang peradaban Timur, mereka akan datang kembali dan mempelajarinya.

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: